Latarbelakang Berdirinya Karya Kasih

foto vanKarya Kasih didirikan pada tanggal 17 Agustus 1958 oleh almarhum Pastor Siegfried van Dam, seorang missionaris Kapusin Belanda yang kemudian menjadi warganegara Indonesia bersama dengan dua orang temannya yang juga sudah meninggal yakni Mr. Karel Amiruddin and Mr. Oei Gek Eng.

Gerakan dan institusi sosial ini didirikan dengan maksud dan tujuan menolong kaum miskin di kota Medan dan sekitarnya terutama mereka  yang hidup di daerah kumuh dan pinggiran sungai.

Pada awal gerakan dan kegiatan ini Pastor van Dam dan bersama anggota timnya menjalankan missinya dengan kegiatan memperbaiki atap rumah yang didiami orang-orang miskin di daerah kumuh. Sangat menakjubkan bahwa dalam waktu satu tahun saja gerakan yang pada mulanya sangat sederhana ini telah berhasil mengganti dan memperbaiki atap sebanyak 600 rumah.

Dalam menjalankan tugasnya yang mulia itu, Pastor van Dam bersama semua temannya mempunyai keyakinan bahwa penyakit atau kondisi kesehatan yang buruk dan sangat memprihatinkan berkaitan erat dengan kemiskinan. Keyakinan itu disaksikannya setiap kali dia mengunjungi daerah kumuh dan padat yang didiami orang-orang miskin. Kenyataan itu baginya merupakan tantangan yang harus dijawab dan suatu pemecahan sekecil apapun mesti dicarikan dan kalau bisa dicari penyelesaian yang berkenaan dengan akar masalah.

Pada tahun 1963 Pastor van Dam memulai apa yang dikenal sebagai Puskesmas Keliling (Pusat Kesehatan Masyarakat Keliling). Mereka mengunjungi orang miskin dan sakit di pemukiman mereka. Dari aspek medis dan kedokteran tim ini sangat dikuatkan oleh almarhum Dr. N. A. Budiparama. Sesuai dengan perkembangan jaman dan dengan bertumbuhnya sedemikian banyak puskesmas yang didirikan Pemerintah, kegiatan ini dihentikan pada tahun 1977.

Sementara itu pelayanan terhadap orang sakit tidaklah diabaikan. Sebab sejak tahun 1969 di Karya Kasih telah didirikan poliklinik dan klinik bersalin yang sampai sekarang masih berfungsi dengan baik dan malah sejak beberapa tahun terakhir dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan darah, faeces dan urine, klinik gigi dan mata sebagai pusat pelayanan rutin demi kesehatan masyarakat.

Mulai tahun 1970 secara resmi dibuka afdeling pertama untuk penampungan dan perawatan orang lanjut usia dan pada tahun 2006 dimulai renovasi yang lebih besar atas tempat tinggal orang lanjut usia. Pada saat yang sama dikembangkan paradigma baru kehidupan lanjut usia.

Pada tahun 1971 dibuka cabang baru, Penitipan Bayi umur di bawah satu tahun karena ibunya meninggal dunia. Afdeling ini juga diperbaharui pada tahun 2006 . Kompleks baru khusus untuk unit Rumah Bersalin dan Penitipan Bayi dibangun dengan fasilitas yang lebih lengkap.

Sejak 16 tahun terakhir dimulai kegiatan sosial operasi katarak bagi orang-orang miskin dan ekonomi lemah. Sampai dengan Mei 2007 ada  sebanyak 5000 orang penderita katarak telah berhasil dioperasi.  Sayanglah bahwa sejak tahun 2008 ini Pemerintah c.q. Dinas Kesehatan tidak bersedia lagi memberikan rekomendasi untuk mendatangkan dokter spesialis mata dari Negeri Belanda padahal selama ini mereka menolong penderita katarak di Medan dan Sumut secara cuma-cuma.

Karya Kasih berjuang terus untuk membela dan memajukan kehidupan. Kehidupan dalam tiap insan entah apapun kondisi umur dan keadaan sosialnya mesti dibela dan dilindungi, integritasnya diakui dan martabatnya dijunjung tinggi.

 

Visi dan Missi

SelesaiKarya Kasih mempunyai visi: ”Membela hidup secara bermutu, penuh integritas dan bermartabat”.

Dalam upaya mewujudkan Visi agar menjadi kenyataan, Perkumpulan Rohani Karya Kasih dan seluruh warganya memiliki misi:

 

1. Menyelenggarakan pemeliharaan bagi kaum lanjut usia untuk dapat memaknai hidup secara bermutu,  dan bermartabat.
2. Membela hidup penuh integritas bagi kalangan yang kurang berdaya dan diperlakukan dengan kurang adil.
3. Menyelenggarakan balai pengobatan umum bagi warga lanjut usia dan masyarakat ekonomi lemah.
4. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar saling memperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan.
5. 
Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak guna memajukan hormat dan pemberdayaan hidup sesuai dengan martabat manusia.
6. Menolong Pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial

 

Refleksi atas  Karya Diakonia

Pelayanan Karya Kasih: Membela hidup secara bermutu, penuh integritas dan bermartabat terus berusaha untuk memberi pelayanan yang terbaik. Karena itu pengembangan dan pembangunan secara fisik diperlukan demi peningkatan pelayanan.

Bulan  Nopember 2011, unit baru yang terdiri tiga lantai diresmikan di Karya Kasih. Gedung ini diperuntukkan untuk kebutuhan pelayanan yang semakin maju dan baik di Karya Kasih. Gedung baru ini diberi nama  Unit Padre Pio seperti halnya juga gedung yang didirikan sebelumnya diberi nama Unit Van Dam dan Unit Melisa.

Gedung Padre Pio terdiri dari:
Lantai 1 terdiri dari ruangan: BKIA (bersalin), klinik fisio terapi, apotik, BP, Klinik Gigi, Kantor Kasir, Kantor Direksi, Living room untuk dokter dan satu unit ruangan disiapkan untuk tempat praktek dokter anak.

Di lantai satu Padre Pio ini juga disediakan satu unit ruangan sebagai ruang serbaguna yang dapat di fungsikan untuk tempat pembinaan: Karyawan Karya Kasih, anak sekolah minggu, putra/i Alatar dan Mudika.

Lantai 2 dan 3 Padre Pio masing-masing terdiri dari 12 kamar  tidur yang sebagian dilengkapi dengan AC. Di setiap lantai terdapat ruangan khusus untuk minum atau rekreasi bagi para residen yang tinggal di unit tersebut. Di setiap lantai juga terdapat ruangan untuk perawat jaga (nurse station).
Ruang Rapat Pengurus Perkumpulan disediakan di sayap lantai satu gedungbaru ini.

Dalam tahun diakonia, Gereja KAM secara khusus merenungkan bagaimana menghayati hidup Kristiani dengan perkataan, perbuatan dan sikap untuk melayani. Dalam pembukaan tahun diakonia KAM Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap mengatakan bahwa menurut ajaran iman, seluruh hidup kita harus diarahkan kepada “US” (Ujian Surgawi). Sebab umat perjanjian baru di atas bumi merupakan penziarahan di bumi yang menuju kebahagiaan yang kekal. Sebab itu kita harus berjaga-jaga, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup, kita di dunia hanya satu kali saja. Sebelum memasukinya, kita harus menjalani ujian surgawi dengan mata ujian, sebagai berikut ; “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi 

Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku”. Seruan inilah yang ditunjukkan dalam pelayanan karya kasih. Dalam pelayanannya,  Karya Kasih terus-menerus berdiakonia mewartakan Kerajaan Allah dengan cara melayani, memelihara kaum lanjut usia untuk dapat memaknai hidup secara bermutu dan bermartabat, membela hidup penuh integritas bagi mereka yang kurang berdaya dan diperlakukan dengan kurang adil, melayani mereka yang mengalami sakit khususnya bagi mereka yang lanjut usia yang ekonominya lemah. Nilai-nilai inilah yang diangkat dalam diakonia Karya Kasih.

Pelayanan Karya Kasih dalam perjalanan waktu mengalami kasih Tuhan. Itu ditunjukkan dengan perkembangan pelayanan yang dialami oleh Karya Kasih. Dalam tahun terakhir ini, banyak orang merasakan kasih Allah lewat pelayanan dan ini pertanda bahwa pelayanan ini masih sangat relavan untuk jaman ini di mana orang dikembalikan kepada martabatnya semula sebagai citra Allah.

 

Tantangan yang dihadapi

Karya Kasih terus menerus merefleksikan diri dan perjalanan     pelayanannya dan kemudian bertanya diri seperti apa dia telah melaksanakan visi dan missinya baik di dalam dirinya maupun dalam bersentuhan dengan banyak instansi.

Konon sewaktu menjadi Sekretaris Uskup pada tahun 1968, almarhum Pastor Siegfried van Dam menulis surat kepada Uskup Agung Medan, almarhum Mgr. A. H. van den Hurk, dan bertanya  mengapa dia mesti duduk terus di belakang meja sementara banyak orang yang membutuhkan pertolongan, membutuhkan perhatian khusus dan perawatan prima namun tidak mahal. Surat itu dan percakapan selanjutnya dengan Uskup berakhir pada suatu kenyataan bahwa pada tahun 1970, almarhum diijinkan untuk menjalankan perutusan dan karya pastoral secara purnawaktu di Karya Kasih. Dan selanjutnya Karya Kasih berkembang sampai keadaan sekarang ini.

Gerakan dan institusi sosial Karya Kasih didirikan tentu sangat dilandasi oleh semangat pelayanan dan kedekatan dengan orang miskin, sederhana dan kaum pinggiran lainnya tanpa menolak kalangan yang lain. Mendahulukan kaum miskin dan kecil adalah amanah sebagai murid Kristus. Adalah suatu panggilan murid Kristus yang mau mendahulukan kaum miskin dan lemah tanpa melawankannya dengan orang-orang yang secara sosio ekonomis lebih beruntung menjadi inspirasi dasar untuk gerakan ini dalam diri alamarhum Pater van Dam. Namun kita juga sadar bahwa pemberdayaan kaum miskin dan tertinggal sangat ditopang dan didukung oleh warga masyarakat lainnya dengan berbagai sumbangan dan perhatiannya. Kedua kelompok penggolongan sosial ekonomis ini harus dijadikan sebagai persaudaraan semesta yang saling mengisi dan mengayakan. Mungkin tidak akan pernah menjadi amat terkenal, tetapi Karya Kasih dengan tindakan dan pelayanannya berusaha untuk mampu bagaikan suatu oasis di padang gurun yang menjadi simbol pengharapan, kesempatan mencari tenaga baru dan kesegaran untuk melanjutkan perjalanan  hidup.

 

Penyelenggaraan Allah sebagai masterplan

Pada awal gerakan ini Pastor van Dam bersama rekan-rekannya menjalankan missi dan tugas mulia mereka bukanlah berdasarkan suatu masterplan yang disiapkan matang dan ditata rapi atau kajian sosiologis yang jitu, melainkan dengan suatu tindakan spontan, konkrit, tak terencana namun berpengaruh secara nyata bagi mereka yang disapa dan ditolong. Masterplannya adalah penyelenggaraan Tuhan; Tuhan sendirilah perencana dan regulatornya. Bila karya ini adalah sungguh karya Tuhan, tidak ada keraguan bahwa Tuhan pasti akan melaksanakannya dalam diri manusia dengan sebaik-baiknya.

Tuhan tidak pernah menghendaki umat kesayangan-Nya menderita dan terus-menerus diterpa kondisi kemiskinan dan kesengsaraan. Dalam menjalankan tugas mulia seperti itu, para pemerhati dan orang yang terpanggil untuk melayani perlu terus-menerus mencari kehendak Tuhan kendati barangkali secara bisnis tidak menjanjikan dan kurang dikenal di kalangan masyarakat luas.

Kenyataan dan pengamatan menghadirkan tantangan yang harus dijawab dengan sarana dan kemampuan yang ada. Pemecahan masalah sekecil apapun dilaksanakan dengan cita-cita  bahwa gerakan seperti ini akan meluas dan akhirnya melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat. Dalam perjalanan pelayanannya tentu karya kasih mengalami peristiwa jatuh bangun dan dengan mendapat dukungan dari berbagai pihak, pemerintah dan swasta, Karya Kasih dalam diri warganya berlutut dan bersyukur kepada Tuhan bahwa telah diperkenankan turutserta mewujudkan cita-cita dan maksud Tuhan Allah terhadap kemanusiaan pada saat menciptakan dunia dan alam semesta. Karya Kasih dalam kerjasama dengan berbagai kalangan di masa lalu dan di masa depan berusaha:”Membela hidup secara bermutu, penuh integritas dan bermartabat”.

 

Terus-menerus membaharui diri dan kinerja

Karya Kasih dalam segala keterbatasan dan peristiwa jatuh bangunnya telah ikut membuktikan bahwa mengganti nama juga bisa dan mesti bisa mengganti isi dan apa yang ada di balik nama itu. Sangat lama istilah dan  ungkapan yang dikenal adalah Panti Jompo. Kedua kata itu memberikan kesan bahwa perkembangan sudah berhenti dan hidup lebih ditandai suatu sikap pessimisme. Karya Kasih menggunakan Graha Residen Senior. Digunakan istilah seperti residensi dan graha karena konsep yang hendak dikembangkan adalah suasana rumah kediaman dengan segala kemungkinan dan dalam kemungkinan yang masih dimiliki oleh setiap insan sebagai anggota salahsatu rumah.

Kaum Manula adalah residen senior dan mereka dikondisikan untuk tetap mampu menilai dan merasakan hidupnya berharga dan bermutu dan karena itu yakin akan martabatnya sebagai manusia dan warga masyarakat yang terhormat. Residen senior diberikan hak dan kesempatan untuk mengisi dan menghargai hidup dalam penggal waktu yang terakhir ini.

Keyakinan yang sama merupakan landasan untuk menjalankan perutusan memelihara bayi dan anak-anak di bawah satu tahun yang ditinggalkan oleh ibunya entah karena meninggal atau karena persolannya lainnya. Bayi dan anak-anak dengan kondisi demikian membutuhkan rumah dan keluarga dalam arti memperoleh reksa, pemeliharaan dan perawatan tahun pertama dalam hidupnya sungguh-sungguh berkembang kendati tanpa ibu yang memberikan asi dan rangkulan hangat. Hal yang sama juga dibutuhkan juga oleh bayi yang dilahirkan di luar nikah dan buat sementara dititipkan oleh keluarga sampai keluarga siap menerima dan memeliharanya secara baik dan bertanggungjawab.