Administrasi Gereja

images

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Data Buku

Judul buku                  : Church Administration Handbook

Penulis                          : William G. Caldwell

                                           Robert D. Dale

                                           Bob I. Johnson

                                           Bruce P. Powers

                                           Judy J. Stamey

Tahun & tempat terbit : 1997, USA: Broadman & Holman Publisher

Editor                                 : Bruce P. Powers

Jumlah halaman            : xiv & 303

 

B. Pengantar Isi Buku

Buku ini ditujukan untuk para pelayan dan anggota staf yang bertanggung jawab mengurus gereja dalam area perencanaan, pengorganisasian, penugasan, pendanaan, dan koordinasi; para murid yang sedang mempelajari tentang hidup dan pekerjaan seorang pelayan di gereja lokal. Secara umum buku ini mencakup hal-hal yang berkenaan dengan kepemimpinan administratif, yaitu bagaimana seorang pelayan berhubungan dengan organisasi atau orang lain, bagaimana seorang pelayan menjalankan fungsi administratif dan bagaimana seorang pelayan mengembangkan keahlian kepemimpinan dan pelayanan.

Buku ini memiliki kelebihan dalam hal banyak memberikan contoh pada setiap bagian yang ada. Contoh-contoh tersebut bersifat aplikatif. Walaupun tidak semua contoh dapat digunakan, akan tetapi contoh-contoh tersebut cukup memberikan gambaran kepada pembaca mengenai apa yang coba dijelaskan dalam buku ini.

 

 

 

BAB II

RINGKASAN BUKU

 

 

A. Bagian Satu: Bagaimana Seorang Pelayan Berhubungan dengan Organisasi                           dan Masyarakat

 

Mengatur Gereja Kristen dan Organisasi Nonprofit

 

            Administrasi gereja adalah pelayanan dan bukan suatu metode. Administrasi dan manajemen mengacu pada “people process” dalam suatu organisasi dan untuk membantu institusi menggunakan sumber daya yang dimiliki dengan baik. Di dalam gereja dan organisasi Kristen, administrasi mengembangkan jemaat, bukan hanya sekedar melakukan pekerjaan. Bagi gereja, administrasi sangat diperlukan untuk mencapai misi gereja.

 

Administrasi: ilmu Pengetahuan, seni, dan karunia

Administrasi atau manajemen gereja adalah suatu ilmu pengetahuan, suatu seni, dan suatu karunia. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, manajemen gereja melibatkan prosedur dan teknik yang dapat dipelajari dengan latihan dan pembelajaran. Sebagai suatu seni, administrasi memerlukan kepekaan relasional, intuisi, dan waktu yang tepat. Rasul Paulus sendiri menyebut administrasi sebagai suatu karunia spiritual (1 Korintus 12:28). Dalam Perjanjian Baru, kata administrasi ditulis dalam beberapa istilah, seperti pemerintah (KJV), administrator (RSV), pekerja spiritual (Phillips), dan kekuatan untuk menuntun (NEB).

Kata administrasi dalam Bahasa Yunani diartikan sebagai “juru mudi (helmsman)”. Sama seperti seorang juru mudi yang mengendalikan kapal melalui batu karang menuju tempat tujuan, pelayan gereja juga bertugas untuk menolong jemaat dalam mencapai misi mereka.

 

Deskripsi umum: memilih, menciptakan, cataloging, dan koordinasi

            Manajemen bisnis sekuler telah menjadi bidang yang sangat rumit. Oleh karena jemaat adalah sebagai tenaga sukarela, organisasi nonprofit, dank arena para pelayan melihat diri mereka sebagai manager paraprofessional, maka model administrasi yang digunakan disederhanakan yang hanya mencakup empat model inisiatif tersebut.

Pada dasarnya, manajemen gereja bertujuan untuk memilih, menciptakan, cataloging, dan mengkoordinir sumber daya organisasi dan pribadi. Model ini menjelaskan proses dasar dalam manajemen jemaat dan secara spesifik menjelaskan “apa” (definisi dari proses), “kenapa” (sudut pandang teologis), “siapa” (penggagas proses), dan “bagaimana” (aplikasi proses).

 

Strategi permulaan pelayanan

Permulaan pelayanan pada umumnya mengacu pada12-18 bulan awal dari pendirian pelayanan di pos baru. Pandangan orang Kristen mengenai sejarah menyediakan fondasi bagi pekerjaan awal pelayanan. Para personel dan pendeta serta jaringan pendukung lainnya menyediakan dukungan, informasi mengenai reaksi jemaat dan organisasi, saran pada suatu hubungan dan kemajuan program, memberi umpan balik, dan membantu evaluasi pelayanan.

Permulaan biasanya diartikan sebagai proses tiga tahap, yaitu mengerti dan menggunakan dinamika dari waktu yang sangat singkat, mengetahui apa yang diharapkan dalam setting baru pelayanan, dan mengembangkan strategi umum untuk menyatakan diri dalam hubungan pelayanan di pos baru. Selain itu, perlu ada pengertian dan penggunaan dinamika interin period. Interim period adalah waktu yang sangat singkat di antara akhir pelayanan sebelumnya dengan waktu pelayanan baru.

 

Menciptakan: tindakan inovatif jemaat

            Beberapa tindakan manajemen secara administratif menciptakan impian, evaluasi, dan perencanaan. Inisiatif ini berfokus pada keaslian dan produksi program dan pelayanan baru.

  • Impian adalah proses klarifikasi, mengambil kepemilikan, dan mengkomunikasikan visi penebusan dalam jemaat dan organisasi. Hal ini karena visi Yesus akan Kerajaan Bapa membentuk inti pengajaranNya. Oleh karena setiap jemaat memiliki kepribadiannya sendiri dank arena Kerajaan memiliki gambaran berbagai ekspresi, keanggotaan yang besar harus membentuk impian jemaat akan pelayanan. Semua pemimpin dalam pelayanan gereja bertugas sebagai pengarah untuk proses impian.

 

Kataloging: tindakan responsif jemaat

Anda dapat merubah jemaat melalui anggaran gereja. Anggaran adalah proses mengalokasikan sumber daya untuk mencapai gol dengan cara mengekspresikan impian gereja dalam bentuk uang.

Anggaran bagi jemaat merupakan refleksi dari respons kita terhadap Tuhan sebagai Pencipta. Dalam gereja-gereja yang lebih kecil, suatu kelompok informal dapat menyarankan struktur anggaran. Tetapi, biasanya sebagian besar jemaat memilih komite untuk menguji rencana pelayanan, mengumpulkan informasi dalam pemasukan dan pengeluaran. Anggaran adalah sumber daya manajemen. Langkah-langkah dalam penetapan anggaran bervariasi dengan filosofi yang digunakan. Tindakan anggaran pelayanan adalah kerangka pendekatan berikut ini:

  • Menganalisa pelayanan terkini dari jemaat
  • Meminta kelompok pelayanan untuk mengajukan tindakan tahun mendatang
  • Mengevaluasi proposal
  • Menyediakan anggaran untuk diskusi jemaat
  • Mempresentasikan anggaran yang telah direvisi bagi jemaat
  • Mendidik jemaat tentang anggaran dan berniat sepenuhnya dalam pendidikan tersebut
  • Menjaga agar jemaat tetap tahu mengenai gereja sepanjang tahun tentag tindakan pelayanan serta dana yang digunakan
  • Memulai proses evaluasi untuk prosedur penetapan anggaran tahun berikutnya.

 

Anda dapat menolong jemaat meningkatkan iklim motivasi mereka. Motivasi adalah proses membantu jemaat untuk menemukan, mengambil alih, dan menggunakan energi spiritual mereka.

Secara teologis, Roh Kudus adalah motivator bagi orang Kristen. Roh Kudus hidup di dalam diri orang Kristen (Yohanes 14:17). Roh Kudus juga memberi energi bagi orang-orang Kristen dengan cara menyemangati dan menuntun kita (Yohanes 14:18;Matius 28:20). Roh Kudus melayani secara aktif terhadap kebutuhan orang Kristen (Yohanes 14:25-31).

Pemimpin kelompok bertugas untuk meningkatkan iklim motivasi pada diri pemimpin organisasi dan para pemimpin lainnya. Orang yang memiliki wewenang terhadap orang di bawahnya harus mengangkat level moral dari porsi yang ada di keseluruhan organisasi.

Menyusun iklim motivasi dan membantu anggota menyalurkan energi mereka kepada impian jemaat adalah tantangan bagi para pemimpin gereja. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan iklim motivasi adalah sebagai berikut:

  • Menciptakan iklim motivasi dengan cara membantu para anggota mencapai kebutuhan mereka akan legitimasi
  • Menciptakan iklim motivasi dengan membentuk sebuah tim pelayanan
  • Menciptakan iklim motivasi dengan mencapai kesepakatan bersama tim pelayanan.

 

Anda dapat membantu gereja mempublikasikan pelayanannya. Iklan adalah proses mengkomunikasikan pesan Kristus dan citra jemaat kepada komunitas melalui orang banyak, dalam bentuk media cetak dan media lainnya.

Konsep pewahyuan menyediakan sebuah dasar teologi untuk pengiklanan visi jemaat. Pendeta dan staf gereja biasanya mengkoordinasi komunikasi tentang pelayanan jemaat. Beberapa gereja bahkan memilih komite hubungan masyarakat untuk menangani seluruh jemaat dan program kelompok dalam menyampaikan proses dan kegiatan pelayanan.

 

Koordinasi: menyeimbangkan tindakan jemaat

Anda dapat mengatur pelayanan jemaat. Mengatur adalah proses mengembangkan struktur dan rencana yang membantu seseorang  menjadi terlibat dalam gol yang ingin dicapai oleh jemaat.

Ciptaan Tuhan memberikan pandangan teologis untuk proses ornganisasi. Tuhan itu bertanggung jawab penuh atas seluruh makhluk hidup di dunia ini. Semua ciptaan Tuhan itu adalah baik dan manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat ciptaan Tuhan. Struktur organisasi adalah bentuk tanggung jawab jemaat terhadap ciptaan Tuhan.

Para pendeta, staf gereja, dewan gereja, para pemimpin program organisasi, dan seluruh jemaat bertanggung jawab untuk menciptakan unit pelayanan baru dan membuang yang lama. Bagaimana sebenarnya mengkoordinir jemaat dalam praktek manajemen dasar?

  • Jangan menciptakan unit organisasi yang tidak diperlukan
  • Bentuk mengikuti fungsi
  • Usaha organisasi bergerak melalui siklus yang dapat diprediksi

 

Organisasi Gereja

 

            Organisasi dalam gereja adalah struktur yang dirancang untuk memampukan jemaat membuat pemuridan, membantu para anggota bertumbuh, dan mengembangkan kekuatan spiritual dalam hidup mereka.

Ada lima karakter dalam Gereja Perjanjian Baru, yaitu penyembahan, proklamasi, pendidikan, pelayanan, dan persekutuan. Hal tersebut yang dikatakan sebagai fungsi utama dari gereja dan organisasi di sekelilingnya yang berkembang.

Untuk mendukung kelima hal tersebut, ada karakter keenam yang ditambahkan dan ini sangat jelas di dalam Alkitab serta sangat dibutuhkan di dalam gereja saat ini, yaitu kepemimpinan. Kepemimpinan administratif adalah perekat atau dukungan yang memampukan kelima hal tersebut bekerja bersamaan, sebagai tubuh Kristus.

 

Program dasar gereja

Program dasar gereja dirancang untuk untuk membantu gereja mencapai tujuan dan juga untuk menemukan kebutuhan dasar individu di dalam jemaat. Selain itu, kegiatan juga dirancang berdasarkan kemampuan dan atau tingkat kebutuhan jemaat.

Ada enam program gereja, masing-masing dengan kelompok kegiatan dasar dan lanjutan. Masing-masing program membangun organisasi dan melibatkan jemaat dalam kegiatannya.

 

Pengelompokkan jemaat

Ada tiga macam pendekatan yang umum digunakan untuk membagi jemaat ke dalam kelompok untuk pendidikan atau tujuan lain, yaitu usia, kemampuan, dan minat. Bahkan, beberapa gereja membuat kelompok-kelompok tambahan berdasarkan jenis kelamin dan status pernikahan.

  • Kelompok usia. Pengelompokan berdasarkan usia digunakan saat mencoba untuk menyesuaikan kebutuhan pertumbuhan tiap individu akan pendidikan. Pembagiannya biasanya kelompok usia anak-anak, anak muda, dan dewasa.
  • Kelompok kemampuan. Pengelompokan berdasarkan kemampuan sering digunakan di banyak gereja, biasanya dilakukan di kalangan orang dewasa, agar jemaat yang memiliki kesamaan dapat bersama. Jemaat bergabung dalam kelompok ini karena tipe pembelajaran atau kebutuhan bersekutu, dan pilihan ini dibuat sebagai bagian struktur organisasi.
  • Kelompok minat. Kelompok minat dibuat saat jemaat merasa bebas untuk memilih studi atau aktivitas yang diminati. Kelompok ini ada selama pelajaran khusus atau aktivitas tetap ada; akibatnya, pendekatan ini digunakan bersama kegiatan belajar dalam waktu singkat.

 

Pejabat dan komite gereja

Pejabat gereja mencakup moderator, administrator, akuntan, sekretaris keuangan, dan bendahara. Komite gereja ada untuk membuat perencanaan, koordinasi, mengakomodasi, dan mengevaluasi pekerjaan yang diberikan kepada mereka oleh gereja.

Berikut ini adalah pedoman bagi administrator:

  • Menentukan tujuan dan struktur organisasi untuk tiap program
  • Gunakan atau buat sebuah dewan atau komite gereja sebagai pemimpin kunci untuk merencanakan, mengkoordinasi, dan mengevaluasi seluruh pelayanan gereja
  • Menyiapkan deskripsi pekerjaan untuk semua posisi
  • Membuat rencana tahunan untuk tiap organisasi
  • Anggaran untuk pengeluaran rutin, seperti materi kurikulum, dan untuk item tertentu dalam rencana tahunan
  • Menjaga pengaturan waktu semua rencana, tanggung jawab anggota, dan menyediakan anggaran jika perlu
  • Menjaga sistem perekaman untuk tiap orang yang terlibat di organisasi, informasi kontak, pejabat, dan rekaman kehadiran
  • Menggunakan informasi untuk menjaga pekerjaan tetap fokus
  • Mengadakan evaluasi program dan organisasi secara periodik dan tahunan
  • Mengikuti prinsip dasar dari kerja sama, untuk dan melalui jemaat dalam mengatur organisasi gereja.

 

 

Bekerja dengan Masyarakat

 

            Bekerja dengan jemaat gereja melibatkan berbagai tantangan administratif, diantaranya:

  • Memahami jemaat sebagai organisasi pelayanan
  • Melayani melalui komite
  • Membayar para sukarelawan
  • Membangun tim yang solid untuk pelayanan
  • Menyelesaikan masalah
  • Mengatur pertemuan pelayanan
  • Memfasilitasi pertemuan untuk membuat keputusan
  • Berhubungan dengan para pejabat gereja
  • Mendelegasikan kesempatan melayani
  • Memimpin jemaat untuk bersekutu
  • Menghadapi orang-orang yang sulit
  • Membentuk iklim organisasi

 

Melayani melalui komite

Saat bekerja dengan komite gereja, hal-hal ini penting untuk diingat:

  • Komite ada untuk gereja, bukan sebaliknya
  • Jemaat yang menyusun kebijakan gereja, sementara itu, komite yang mengesahkan kebijakan
  • Fungsi komite gereja adalah untuk membantu jemaat menyelesaikan tugas yang tidak dapat diselesaikan
  • Jemaat sendiri memiliki deskripsi kerja komite, orientasi pemimpin dan anggota, dan forum untuk melaporkan pekerjaan kepada gereja
  • Sesi orientasi untuk komite bertujuan untuk mendiskusikan fungsi komite dalam gereja, menginformasikan anggota komite tentang tugas spesifiknya
  • Pertemuan rutin dan pertemuan special yang diadakan oleh komite
  • Rekomendasi komite untuk jemaat harus disertai dengan informasi penuh
  • Mengevaluasi struktur komite untuk memenuhi kebutuhan penting dan menghilangkan kesenjangan dalam tugas komite.

 

Penyelesaian masalah

Penyelesaian masalah dapat menjadi sesuatu yang kreatif daripada menjadi pengalaman yang membuat frustrasi, jika metode yang diterapkan benar. Pertama mulai dengan mengumpulkan informasi dan pernyataan yang jelas mengenai masalah. Kedua adalah melakukan urun pendapat yang memungkinkan pencarian solusi dengan cara “goal wishing”. Ketiga adalah dengan cara merilekskan pikiran, dan yang terakhir adalah coba untuk mencocokan permasalahan.

 

Berhubungan dengan staf gereja

Ada tujuh prinsip dasar yang membantu hubungan baik dengan staf gereja.

  • Staf gereja adalah manusia, bukan aturan
  • Kenali adanya hubungan yang berbeda-beda dalam staf gereja
  • Staf yang efektif menggabungkan peran spesialis dan generalis
  • Semakin besar staf, semakin tinggi tekanan dalam hubungan
  • Deskripsi kerja memuat pernyataan harapan jemaat terhadap staf dan para sukarelawan
  • Mengadaptasi model manajemen yang sehat bagi para staf
  • Mengambil posisi untuk membangun
  • Menyediakan forum komunikasi

 

Menghadapi orang-orang yang sulit

Orang-orang yang sulit dihadapi dibagi menjadi dua kategori, yaitu orang yang agresif dan orang yang pasif. Orang yang agrsif mencakup orang yang tidak bersahabat, orang yang lebih suka berada dalam kelompok tertentu, dan pembuat keonaran. Sedangkan orang yang pasif mencakup orang apatis, orang-orang kesepian, dan orang tradisional. Orang yang agresif akan mencoba mendominasi agenda jemaat dan orang pasif cenderung menarik diri dari misi dan momen dalam jemaat.

 

B. Bagian Dua: Bagaimana Seorang Pelayan Menjalankan Tanggung Jawab                            Administratif

 

Administrasi Personel

 

            Gereja harus mempekerjakan personel atau kelompok yang sama, mempelajari kebutuhan staf dari gereja, mengembangkan kebijakan personel, dan mengatur kebijakan atas nama gereja. Komite personel bertanggung jawab kepada gereja untuk pengembangan dan merekomendasikan kebijakan yang berkaitan dengan anggota staf yang dibayar serta pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka mencakup:

  • Kajian tentang kebutuhan personel di masa depan
  • Mengembangkan dan menjaga bagan organisasi serta kebijakan personel
  • Mengembangkan sebuah proses bagi personel yang dibayar
  • Membuat rekomendasi bagi gereja mengenai gaji dan rencana keuntungan, dengan berkonsultasi pada komite keuangan.

 

Mengembangkan rencana gaji

Ada enam hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan rencana gaji, yaitu:

  • Gunakan deskripsi kerja yang akurat untuk tiap posisi
  • Beri peringkat posisi penuh waktu berdasarkan level tanggung jawab
  • Melakukan survey perbandingan dalam masyarakat dan gereja untuk menentukan jumlah gaji
  • Tentukan pada saat awal jumlah gaji untuk tiap posisi mulai dari peringkat paling bawah
  • Pertimbangkan jumlah gaji paling besar untuk tiap posisi, jika diinginkan
  • Tambahkan jumlah gaji tiap tahun untuk mencerminkan biaya hidup yang berubah

 

Orientasi karyawan baru

            Hal-hal berikut ini harus dilakukan saat mengorientasi staf baru:

  • Perkenalkan anggota staf dan tur ke seluruh fasilitas gereja
  • Beritahu bagaimana staf diatur untuk menjalankan program dan pelayanan gereja
  • Jelaskan program gereja, pelayanan, jadwal kegiatan, jadwal pelayanan, memahami karakter jemaat; mereview sejarah gereja
  • Pelajari bagaimana gereja bekerja melalui organisasi yang beragam, dewan dan komite
  • Jelaskan kebijakan tertentu soal penggunaan obat, pelecehan seksual, dan menjalankan etika
  • Jelaskan keuntungan bagi karyawan, kebijakan personel, gaji, hari pembayaran, jam kerja, hari libur, dan hal lainnya
  • Jelaskan kewajiban kerja
  • Tur di komunitas

 

Administrasi Kantor

 

            Tujuan adanya kantor gereja adalah untuk menyediakan dukungan bagi jemaat dalam mencapai gol yang telah disetujui oleh gereja. Kantor gereja adalah pusat administrasi bagi jemaat.

Ada lima area utama dalam titik inspeksi untuk administrasi gereja, yaitu lokasi, lingkungan, fasilitas, peralatan, dan sistem kerja. Lokasi gereja harus mudah dicapai oleh anggota gereja dan orang yang tidak familiar dengan fasilitas gereja. Begitu juga dengan area parkir yang mudah dicapai oleh orang tua dan orang muda.

Sementara itu, karakter sebuah kantor gereja sangat penting dalam berhubungan dengan masyarakat. Lingkungan kantor gereja mencerminkan perasaan positif atau negatif, memberi rasa percaya diri atau keragu-raguan, mencerminkan kepercayaan atau kecurigaan mengenai kualitas kepemimpinan administrasi dalam sebuah gereja.

Sebuah kantor dapat menjadi sudut ruangan, atau dapat menjadi kantor yang mewah, dengan ruang kerja dan area penyimpanan. Satu prinsip dasar atas semuanya adalah: setiap hal harus berguna, harus membantu mengerjakan pekerjaan Anda. Pedoman dasar administratif tentang kantor gereja adalah sebuah tempat untuk semua dan semua berada pada tempatnya. Sebuah kantor harus memiliki fasilitas-fasilitas berikut ini: area penerima tamu, perlengkapan kerja (meja), tempat jalan, area kerja, dan fasilitas penyimpanan.

Area penerima tamu harus berada setelah pintu masuk kantor dan harus terpisah dari area kerja dengan batas meja resepsionis, counter, atau perlengkapan lainnya. Perlengkapan kantor yang diperlukan di area ini adalah meja dan kursi-kursi.

Sementara itu, keperluan seorang administrator akan peralatan kantor lebih ditujukan untuk mempercepat pekerjaan. Komputer adalah salah satu peralatan kantor yang dapat mempercepat proses pembuatan laporan. Peralatan lainnya adalah lemari kabinet untuk menyimpan data-data yang berhubungan dengan administrasi kantor. Peralatan lainnya adalah mesin photocopy, telepon dan mesin fax.

 

Prosedur Keuangan

 

            Gereja memiliki dua sumber terbatas, yaitu uang dan manusia. Perlu ada perencanaan yang matang untuk mengatur kedua sumber daya tersebut, terutama untuk membuat rancangan anggaran. Tanpa rencana keuangan, gereja dapat terjebak hutang yang sangat besar, biaya personel yang membengkak, dan kenaikan biaya pemeliharaan.

 

Membuat anggaran

Cara terbaik membuat anggaran adalah membuatnya pada awal tahun, dan mengembangkannya berdasarkan nilai variable-variabel yang utama. Di gereja lokal, rencana berdasarkan kebutuhan sumber daya seperti itu disebut anggaran pelayanan. Anggaran pelayanan itu sendiri didasarkan atas jemaat. Anggaran pelayanan adalah cara efektif untuk melakukan pekerjaan.

Prosedur penerimaan dan pengeluaran dana sangat penting untuk integritas rencana keuangan gereja. Sementara itu, beberapa gereja mengontrol pengeluaran dengan menggunakan sistem bon pembelian.

 

Perencanaan dan Anggaran

 

Perencanaan

            Perencanaan yang dilakukan sebelum memulai suatu usaha besar atau kecil sangat penting dalam menentukan hasil dari usaha tersebut. Perencanaan dapat membantu gereja mencapai tujuannya tentang apa yang hendak dilakukan di bawah kuasa Tuhan.

 

Anggaran

Membuat anggaran adalah proses mengalokasikan sumber daya menuju gol dengan cara mengekspresikan mimpi gereja dalam bentuk uang. Anggaran adalah cara yang paling dikenal untuk mengungkapkan perjalanan gereja, di masa lalu, masa kini, dan yang paling penting, apa yang hendak dicapai di masa depan.

Ada dua cara dalam membangun anggaran pelayanan, yaitu pendekatan daftar kebutuhan dan pendekatan dasar pelayanan. Anggaran daftar kebutuhan adalah tipe yang umum digunakan oleh gereja dimana alokasi dibuat untuk tiap macam kebutuhan. Sedangkan anggaran dasar pelayanan ditekankan pada partisipasi terbanyak  dari orang-orang.

 

 

 

Merancang dan Mengatur Fasilitas

 

            Gereja harus membuat beberapa keputusan tentang penggunaan dasar property gereja sebelum menentukan gedung dan peralatan yang dibutuhkan. Apapun keputusan tentag penggunaan dasar property dan fasilitas, gereja harus mengembangkan beberapa sistem mengenai prioritas penggunaan.

Gereja tidak hanya mengurus rancangan dan membangun fasilitas yang baik. Gereja harus berada dalam bisnis mengatur fasilitas sehingga keuntungan maksimal dapat diraih dari kegunaannya. Dalam mengatur fasilitasnya, gereja harus membuat kebijakan penggunaan fasilitas dan peralatan, merencanakan pengukuran energi manajemen, menyediakan perlindungan asuransi, mengembangkan prosedur perawatan yang baik, dan membuat prosedur inventaris properti dan peralatan.

 

Merencanakan Acara Spesial Jemaat

 

            Acara special jemaat dapat berupa upacara pernikahan, pemakaman, dan acara kebangunan rohani. Perencanaan pernikahan meliputi konseling pranikah, latihan untuk upacara pernikahan dan setelah upacara pernikahan. Upacara pemakaman meliputi penyediaan rumah duka hingga setelah upacara pemakaman. Sedangkan acara kebangunan rohani merupakan pertemuan untuk berbagi firman.

 

Publikasi Gereja

 

            Dalam proses publikasi mengenai jemaat dan gereja ada beberapa pertimbangan umum yang harus diperhatikan. Pertama adalah menyampaikan pesan dengan sangat jelas, yang kedua menentukan target pembaca, mengikuti rencana yang telah dibuat, menggunakan kertas yang berkualitas, membuat informasi dasar yang dikenal, dan mengembangkan kemampuan editorial.

Panduan yang perlu diikuti dalam menyusun rencana administratif gereja, diantaranya:

  • Salah satu dari staf gereja harus ditunjuk untuk menangani publikasi gereja
  • Membuat pernyataan kebijakan yang menjelaskan tujuan, isi, distribusi, dan biaya untuk publikasi rutin
  • Membuat jadwal produksi untuk tiap publikasi rutin
  • Mereview keefektifan publikasi gereja

 

Servis Makanan

          Tidak semua gereja menyediakan jasa penyeddiaan makanan bagi jemaat yang dipercayakan Tuhan padanya. Hal ini bergantung pada rumusan undang-undang yang ditetapkan di dalam gereja masing-masing.  Pelayanan dalam penyediaan makanan sangat berbeda antara gereja yang satu dengan yang lain. Ada gereja yang menyediakan pelayanan jenis ini dan  ada juga yang tidak. Dalam pengadaan aktivitas ini, harus ada suatu kesadaran agar pelayanan ini dapat efektif dalam suatu gereja. Gereja harus menentukan tujuan yang ingin dicapai dari diadakannya pelayanan ini. Keputusan ini akan mempengaruhi pendekatan yang akan diambil dalam pelayanan dan pendanaan biaya yang harus dipakai. Pelayanan ini dapat digunakan sebagai suatu acara pertemuan informal sebagai sarana mempererat persaudaraan dan tali persahabatan antara semua pihak yang terlibat. Menyediakan makanan kadang menjadi cara terbaik untuk mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas di gereja. Cara ini baik akan tetapi jangan sampai mengaburkan tentang pentingnya makanan rohani.

Banyak gereja yang memberdayakan sukarelawan dalam operasi pelayanan makanan ini. Hal ini menyediakan kesempatan untuk melibatkan orang-orang dalam gereja yang mungkin tidak ingin terlibat pelayanan dalam kepemimpinan gereja. Desainlah sebuah dapur gereja agar pelayanan menjadi lebih mudah, demikian juga halnya dengan keperluan sanitasi dan segala keperluan lain yang berhubungan itu. Buatlah kebijakan yang mengatur penyediaan makanan baik masalah kuantitas orang yang akan melayani, metode penyajian, rencana menu, dan lain sebagainya.

 

Urusan Hukum

 

Masalah hukum adalah salah satu masalah yang pelik yang dihadapi oleh kongregasi. Setiap gereja akan membutuhkan nasihat masalah hukum di beberapa poin dalam ministrinya. Banyak gereja yang tidak terlalu memperdulikan masalah hukum karena kadang menganggap masalah gereja berbeda dengan masalah negara atau hukum. Hal ini tentu tidak selalu benar karena jika terjadi, perubahan dalam hukum, tentu akan berpengaruh pada gereja yang ada di bawah payung hukum di daerah tersebut.

Gereja harus mencari sebuah badan yang menangani masalah hukum dengan baik. Badan hukum tersebut harus familiar dengan sistem yang ada di gereja. Ada beberapa sektor dimana gereja akan bijak untuk meminta pertolongan secara hukum, misalnya dalam masalah inkorporasi, liabilitas, masalah pajak, kontrak, dan lain sebagainya.

 

Mendirikan Sebuah Misi Baru

 

          Sebuah misi baru memperbolehkan sebuah gereja bergabungan dengan yang lain yang visi dan tujuannya sama, sehingga dapat menjalankan sebuah misi baru. Berparrtisipasi dalam sebuah misi baru dapat membantu menghilangkan rasisme atau tradisionalisme yang ada di dalam kongregasi. Penciptaan atau pengadaan sebuah misi baru memberikan gereja sebuah kesempatan yang segar dan menantang untuk mengekspresikan iman kepada Yesus Kristus. Hal ini dikarenakan gereja ‘dipaksa’ untuk mencapai jiwa-jiwa baru yang ada di luar kongregasi.

Untuk mengadakan sebuah misi, diperlukan persiapan-persiapan dan pengambilan keputusan sebelum memulainya. Persiapan dan pengambilan tersebut antara lain: menentukan pola pikir dan kesiapan untuk sebuah misi baru dari kongregasi, menentukan minat atau tujuan dari misi gereja, dan sebagainya. Semua hal ini diadakan untuk menyediakan kelahiran baru yang sehat dari orang-orang yang datang atau berpartisipasi. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menyediakan sarana kelahiran baru yang baik antara lain: membentuk sebuah komite untuk mengatur atau melaksanakan misi baru ini, memilih area dan/atau orang-orang yang menjadi target, mempersiapkan gereja untuk sebuah misi baru, mengolah ladang misi, persiapan dana, dan lain sebagainya.

Tekanan dari sebuah gereja yang sedang bertumbuh seringkali terletak pada pertumbuhan orang-orang secara numerik. Pertumbuhan secara numerik memang penting, tetapi keefektifan jauh lebih penting. Sumber daya yang melimpah akan membantu kita menentukan apa yang membuat sebuah gereja menjadi efektif.

 

Hubungan Kooperatif

 

Gereja bukanlah tubuh yang independen. Gereja selalu berfungsi dalam sebuah lingkungan yang saling mendukung dan tekanan utamanya adalah misi Yesus Kristus bagi dunia ini. Semua kongregasi harus membangun diri sebaik mungkin sehingga dapat dengan efektif menjadi representasiNya.

Gereja kita dan denominasi memiliki sebuah cara dalam bekerja sama. Organisasi yang kita miliki dan prosedur yang kita ikuti disebut dengan pemerintahan denominasi. Pemerintahan yang dimaksudkan di sini adalah pernyataan dari sejumlah aturan dan petunjuk yang menentukan sebuah bentuk pemerintahan institusi Kristen dan prosedur untuk bekerja sama. Prinsip-prinsip dalam Perjanjian Baru digunakan dalam gereja sejauh yang dapat dipraktikkan dalam pemerintahan denominasi.

Pelayanan Kristen yang efektif bergantung pada pembagian sumber daya. Dengan mengkombinasikan karunia spiritual dan material dari Tuhan, gereja-gereja dapat memperluas dan memperkaya saksi atau kesaksian mereka yang tidak mungkin terjadi hanya dalam satu kongregasi. Selain itu, seluruh tubuh Kristus tidak memiliki sumber daya yang sama. Oleh sebab itu, kongregasi yang lebih mapan harus berkontribusi lebih banyalk daripada yang kurang mampu. Dengan bekerja sama sesama Tubuh Kristus, banyak keuntungan yang dapat diraih bersama baik dalam skala kecil maupun besar.

 

 

 

 

C. Bagian Tiga: Bagaimana Sebuah Ministri Membangun Kepemimpinan dan Kemampuan

 

Memperlengkapi Orang-orang yang Suci untuk Melayani

 

Setiap orang percaya dikaruniai dan diharapkan untuk melayani Tuhan. Selain itu, setiap orang percaya harus diberikan kesempatan untuk melayani Tuhan. Pemahaman dari ajaran ini akan membantu gereja untuk mulai mengembangkan teologi pelayanan untuk para anggotanya. Lewat Alkitab, Tuhan memberikan instruksi atau perintah dan tantangan untuk setiap orang percaya menjadi seorang pelayan.

Teologi pelayanan bagi orang percaya harus dimulai dengan memahami esensi dari kehidupan Yesus dan kasih yang memotivasi diriNya untuk hidup dalam pelayanan sampai ke kayu salib. Dalam Yakobus 1: 22 tantangan untuk orang percaya adalah untuk membuktikan diri mereka sebagai pelaksana dari Firman dan bukan hanya pendengar. Teologi pelayanan dapat didefinisikan sebagai kasih kepada Bapa dalam perbuatan. Menemukan karunia rohani sangat penting untuk melayani. Setiap orang percaya telah Tuhan perlengkapi dengan karunia yang dapat digunakan untuk membangun Tubuh Kristus.

Diperlukan kualifikasi-kualifikasi untuk pelayanan. Kulaifikasi tersebut untuk mengetahui apakah orang yang ingin melayani tersebut tepat dengan pekerjaannya. Contoh dari kualifikasi-kualifikasi tersebut antara lain: memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan dan gereja, memiliki reputasi yang baik, memiliki sikap yang kooperatif dan dapat bekerja di dalam tim, memiliki keinginan belajar, dan mendaftarkan diri untuk melayani. Seorang pelayan harus memiliki keperdulian, mau membantu orang lain dalam keadaan yang sulit, berdoa bagi kita, dan orang yang mengapresiasi kita dalam melayani Tuhan.

Seorang pemimpin gereja wajib untuk menyediakan pelatihan bagi mereka yang melayani. Tujuan dari pelatihan ini adalah membantu seseorang untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, pemimpin juga harus mengevaluasi pekerja-pekerjanya. Hal ini jelas diperlukan agar gereja dapat efektif.

 

Hubungan Staf

 

            Semua anggota staf gereja harus berkomitmen untuk membangun hubungan yang baik dengan sesama. Ada empat konsep yang signifikan tentang bagaimana membangun hubungan di antara anggota staf gereja. Pertama hal membangun hubungan adalah kegiatan wajib. Kedua, hal membangun hubungan adalah kegiatan yang berkelanjutan. Ketiga, hal membangun hubungan harus dilakukan bersama Tuhan, bersama gereja, dan bersama anggota staf lainnya. Keempat, hal membangun hubungan melibatkan pembagian tanggung jawab dan otoritas.

Beberapa prinsip dasar untuk menuntun seorang staf dalam perencanaan dan kerja sama adalah sebagai berikut:

  • Secara rohani, semua anggota staf harus mengasihi Tuhan, gereja, mengasihi satu sama lain dan berlaku seperti orang Kristen; semua staf harus bersukacita; para staf harus memiliki kerendahan hati dan ketaatan; semua anggota staf harus menjaga saat teduh harian mereka.
  • Secara administratif, staf berbagi tim pelayanan; ada perhatian secara berkala yang diberikan untuk membangun hubungan; ada pertemuan rutin antarstaf
  • Secara praktek, masing-masing staf harus setia kepada Tuhan dan sesama; tiap anggota staf harus disemangati untuk berpikir dan berfungsi sebagai pelayan sepenuhnya dan anggota tim; ada komunikasi yang baik; hubungan juga dibangun dalam tingkat personal.

 

Kehidupan Personal Para Pelayan

 

            Para pelayan diingingatkan oleh instruksi Alkitabiah untuk bertanggung jawab atas kehidupan pernikahan dan hubungan kekeluargaan mereka. Rasul Paulus sendiri mengaitkan manajemen rumah dengan manajemen gereja (1 Timotius 3:5). Gagal dalam keluarga berarti gagal sebagai pemimpin gereja.

Kehidupan keluarga adalah proses hidup yang panjang, sehingga mengatur hubungan dalam sebuah rumah menjadi praktek terus menerus dalam memperbarui sumpah dan komitmen terhadap anggota keluarga. Tahap-tahap dalam memperbarui komitmen dalam keluarga mencakup hal-hal seperti: keluarga yang bahagia; keluarga yang penuh dengan sukacita; keluarga tiga generasi.

Pelayanan keluarga adalah hal yang luar biasa dan dengan tanggung jawab yang berat. Kondisi dimana orang tua berusaha menjadi sempurna sehingga mengalami kelelahan yang luar biasa adalah kondisi yang sering dihadapi oleh para konselor. Hal ini dapat diatasi dengan cara berbicara mengenai tekanan yang sedang dihadapi, melarikan diri untuk sejenak, mengungkapkan hal-hal yang tidak tersampaikan, berbicara dengan orang lain selain keluarga, melayani satu dengan lainnya, dan buat ruangan tersendiri untuk diri Anda.

Sama seperti pernikahan dan keluarga yang berkembang melalui tahap-tahap tertentu, begitu juga dengan pelayanan Anda sebagai proses berkembang melalui tahap-tahap tertentu. Ada lima tahap pengembangan pelayanan Anda, yaitu memasuki pelayanan, pengembangan dan stabilitas, penolakan, dan pensiun.

Dalam pelayanan diperlukan jaringan pendukung. Jaringan pendukung terdiri dari atas lima hal, yaitu pasangan jiwa, belajar seumur hidup, pelatihan spiritual, mentoring, dan latihan fisik. Supaya pelayanan dapat berjalan dengan baik, seorang pelayan harus berada dalam sistem pendukung yang efektif pada jaringan pertemanan, jaringan pendukung adalah sekolah portabel, pelatihan spiritual adalah penyeimbangan sistem pendukung, jaringan pendukung adalah mentoring, dan sistem pendukung Anda adalah kesehatan fisik.

Penempatan prioritas yang salah dalam pelayanan dapat menyebabkan kelelahan yang luar biasa. Kepedulian diri adalah kunci untuk pulih dari kelelahan yang luar biasa. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelelahan dalam pelayanan diantaranya, pembatasan diri, pengawasan diri, pengisian kembali, dan pengendalian dari teman dan lingkungan sekitar.

 

Menjadi Pendeta di Gereja Kecil

 

            Untuk memulai pelayanan di gereja kecil, ketahui terlebih dahulu mengenai status jemaat. Apakah jemaat tersebut adalah jemaat pedesaan, jemaat yang lebih tua, atau jemaat perkotaan? Perlu juga diketahu apakah jemaat tersebut punya sejarah konflik yang menghancurkan. Kemudian kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita pantas dan merupakan orang yang tepat untuk memimpin jemaat tersebut menjadi umat Tuhan.

Saat memulai proses pendekatan, biasanya akan banyak orang yang memberikan saran untuk kepemimpinan Anda. Sebaiknya dengarkan semua nasihat mereka karena ada waktunya untuk merespons semua saran dan pendapat mereka.

Saat memulai pelayanan, jika gereja sudah memiliki dewan atau kabinet yang terdiri dari pemimpin-pemimpin dan komite mayoritas, gunakan itu sebagai dasar perencanaan dan pendukung seluruh pelayanan. Di gereja kecil sangat sedikit orang yang memiliki kualifikasi untuk berada dalam dewan dan melaksanakan tugas-tugas komite. Bentuk satu kelompok tugas. Tentukan area utama dari pelayanan, seperti penyembahan, kajian Alkitab, pelayanan anak muda, dan misi keluar.

Untuk memobilisasi para pelayan dalam misi, sebaiknya mengacu pada saran-saran seperti, membuat jadwal waktu yang sesuai bagi pelayan, merekrut dalam suasana doa, menjelaskan tugas pelayanan yang harus dilakukan, buat informasi yang dicetak, memberikan waktu sebelum orang memutuskan sesuatu, dan selesaikan tugas seperti yang dijanjikan.

Mulai dalam Pelayanan Baru

 

            Ada tiga fase untuk mulai dalam posisi baru di pelayanan, yaitu fase membuat peralihan, fase orientasi, dan fase membangun pangkalan data. Fase pertama memerlukan waktu setidaknya empat minggu sebelum memulai pekerjaan di posisi baru. Untuk gereja, fase ini memberi waktu agar pelayan baru siap bekerja; menyetujui pengaturan keuangan; menyetujui masalah rumah tangga gereja; dan membuat rencana untuk menyambut, proses orientasi dan sebagainya. Untuk pelayan baru, fase ini menegaskan tugas yang harus dilakukan oleh pelayan baru.

Fase kedua adalah memulai orientasi. Tujuan fase ini adalah membuat orang baru merasa nyaman dengan staf lainnya, fasilitas, prosedur, dan pelayanan gereja serta dengan para pemimpin gereja dan sumber daya dalam komunitas. Untuk gereja, orientasi terhadap orang baru dilakukan oleh orang yang sangat mengenal kehidupan gereja.

Fase ketiga adalah membangun pangkalan data. Selama fase ini, pelayan baru mengembangkan pengetahuan dan menyimpan informasi yang akan menuntun rencana serta strategi untuk pelayanan. Untuk gereja, saat pelayan baru membuat pangkalan data, informasi lebih banyak akan dibutuhkan daripada saat orientasi. Untuk pelayan baru, hal ini adalah cara untuk melengkapi diri dengan pelayanan yang efektif.

 

Menemukan Pemenuhan di dalam Ministri

 

          Pendekatan yang paling baik dalam mendapat kan dan menjaga posisi ministri adalah dengan menikmatinya dalam dua kategori, yaitu:

  • Menunjukkan tanggung jawab pada pekerjaan pada level atau tingkat yang diterima dalam gereja.
  • Menemukan kebutuhan pribadi kita pada level atau tingkat yang dapat fiterima oleh kita dan kita menyukainya.

 

Terdapat empat cara yang dapat dipakai dalam meghadapi suatu masalah, yakni:

  1. Tetap tinggal dan menerima keadaan
  2. Pergi dan keluar dari situasi
  3. Mengubah diri sendiri
  4. Mengubah keadaan atau organisasi

 

BAB III

PENDAPAT/KOMENTAR ISI BUKU

 

            Sebagai seorang pendeta atau hamba Tuhan, kita wajib mengerti bagaimana caranya mengelola suatu gereja yang Tuhan percayakan pelayanannya pada kita. Dalam mengelola gereja, tentu tidaklah sama dengan mengelola sebuah perusahaan yang mencari keuntungan. Gereja ada sebuah organisasi nonprofit, sehingga dalam mengelolanya pun akan sulit jika mengikuti metode yang dijalankan oleh perusahaan atau organisasi-organisasi lain yang mencari profit. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, manajemen gereja melibatkan prosedur dan teknik yang dapat dipelajari dengan latihan dan pembelajaran. Sebagai suatu seni, administrasi memerlukan kepekaan relasional, intuisi, dan waktu yang tepat.

Tuhan Yesus mengajarkan pada kita prinsip dari melayani karena Ia tahu bahwa manajemen dan kepemimpinan yang dunia ajarkan pada manusia membawa banyak masalah dalam relasi manusia. Tuhan mengajarkan bahwa sebagai seorang pemimpin jangan memakai kekuasaan dan kekuatannya untuk ‘menindas’ orang yang ada di bawahnya. Metode manajemen yang diajarkan dalam Alkitab dapat dikatakan sebagai berikut: manajemen adalah memenuhi kebutuhan orang dalam bekerja untuk menyelesaikan suatu tugas.

Dalam mengelola suatu gereja, menurut saya, tidak dapat dipungkiri bahwa kita memerlukan biaya yang tidak sedikit dan biaya tersebut diperlukan secara berkesinambungan demi pertumbuhan dan perkembangan jemaat dalam segi kualitas dan kuantitas. Anggaran adalah proses mengalokasikan sumber daya untuk mencapai tujuan atau visi dengan cara mengekspresikan impian gereja dalam bentuk uang. Anggaran bagi jemaat merupakan refleksi dari respons kita terhadap Tuhan yang telah memanggil kita dalam tugas pelayanan. Dalam gereja-gereja yang lebih kecil, suatu kelompok informal dapat menyarankan struktur anggaran.

Anggaran perlu untuk direncanakan dengan baik di dalam gereja. Ada dua cara dalam membangun anggaran pelayanan, yaitu pendekatan daftar kebutuhan dan pendekatan dasar pelayanan. Anggaran daftar kebutuhan adalah tipe yang umum digunakan oleh gereja dimana alokasi dibuat untuk tiap macam kebutuhan. Sedangkan anggaran dasar pelayanan ditekankan pada partisipasi terbanyak dari orang-orang. Cara terbaik membuat anggaran adalah membuatnya pada awal tahun, dan mengembangkannya berdasarkan nilai variable-variabel yang utama.

Anggaran di dalam gereja digunakan untuk berbagai keperluan gereja dan jemaat. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan dianggarkan antara lain untuk merencanakan kegiatan jemaat, menggaji karyawan gereja atau para sukarelawan, sampai kegiatan-kegiatan seperti bakti sosial, pengobatan gratis, atau penyediaan makanan bagi anggota gereja.

Akan tetapi, kita jangan terlalu terpaku pada masalah biaya karena biaya hanya merupakan salah satu faktor saja dalam kegiatan manajemen. Kegiatan manajemen dapat disederhanakan menjadi dua kategori dasar yang tidak dapat disederhanakan lagi, yakni manajemen benda dan manajemen gagasan. Kebanyakan orang sayangnya hanya berfokus pada manajemen benda. Benda meliputi anggaran, fasilitas, peralatan, dan persediaan. Pada umumnya lebih mudah dalam mengelola benda-benda daripada mengelola gagasan yang timbul. Hal ini dikarenakan benda dapat diperkirakan, dihitung, dikalkulasi, lebih mudah diawasi, dan dipertanggungjawabkan sementara gagasan tidak. Gagasan tidak dapat dilihat, dievaluasi, bahkan kadang-kadang keberadaaannya tidak disadari.

Gereja harus memiliki atau merancang program-program. Program dasar gereja dirancang untuk untuk membantu gereja mencapai tujuan dan/atau visi yang Tuhan atau Gembala Sidang tetapkan dan juga untuk menemukan kebutuhan dasar individu di dalam jemaat. Selain itu, saya menyetujui agar kegiatan juga dirancang berdasarkan kemampuan dan atau tingkat kebutuhan jemaat. Hal ini berkaitan erat dengan keefektifan suatu gereja dalam pelayanannya.

Pemimpin bertanggung jawab untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi kelompoknya. Kondisi-kondisi yang harus diperhatikan oleh pemimpin antara lain: tanggapan terhadap kebutuhan kerja kelompoknya, sikap terhadap karyawan, jemaat, dan pekerjaan, penggunaan wewenang, dan kerelaan untuk memberikan penghargaan dan pengakuan atas keberhasilan anggota kelompoknya, termasuk pada jemaat.

Pemimpinan yang ingin menerapkan filosofi administrasi yang Alkitabiah dan membuka potensi kreativitas semua anggota gerejanya harus: menciptakan hubungan yang berdasarkan pada sikap saling percaya, memberi wewenang pengambilan keputusan kepada semua orang dalam kelompoknya, menjadikan kegagalan dan kesalahan sebagai pengalaman yang positif bagi anggotanya, dan selalu memberikan penghargaan kepada setiap anggotanya dalam setiap keberhasilan. Semua unsur tersebut harus dilaksanakan dengan konsisten kepada setiap anggota dalam kelompok tersebut.

Ada enam program gereja, masing-masing dengan kelompok kegiatan dasar dan lanjutan. Masing-masing program membangun organisasi dan melibatkan jemaat dalam kegiatannya. Program-program gereja harus dilaksanakan dengan konsisten dan teratur agar mencapai hasil dengan maksimal. Hal-hal yang patut diperhatikan oleh gereja antara lain: masalah pelayanan jemaat (penyediaan makanan, pelayanan pemakaman, dan lain sebagainya), masalah karyawan gereja atau sukarelawan, masalah yang menyangkut hukum, masalah publikasi gereja, dan lain-lain.

Organisasi dalam gereja adalah struktur yang dirancang untuk memampukan jemaat membuat pemuridan, membantu para anggota bertumbuh, dan mengembangkan kekuatan spiritual dalam hidup mereka.

Terdapat lima karakter di dalam Gereja Perjanjian Baru, yaitu penyembahan, proklamasi, pendidikan, pelayanan, dan persekutuan. Hal-hal tersebut adalah fungsi utama dari gereja dan organisasi di sekelilingnya yang berkembang.

Sebagai sarana untuk mendukung kelima hal tersebut di atas, ada karakter keenam yang ditambahkan dan ini sangat jelas di dalam Alkitab serta sangat dibutuhkan di dalam gereja saat ini, yaitu kepemimpinan. Kepemimpinan administratif adalah perekat atau dukungan yang memampukan kelima hal tersebut bekerja bersamaan, sebagai tubuh Kristus.

Secara umum, kepemimpinan itu dicapai dan dipertahankan karena keberhasilan. Terdapat tujuh rahasia dalam mencapai keberhasilan. Tujuh hal tersebut antara lain:

 

v  Kenali sebuah kebutuhan yang dapat Anda penuhi, kemudian penuhilah

v  Kenali luka batin yang dapat Anda pulihkan, kemudian pulihkanlah

v  Kenali kesempatan-kesempatan yang dapat Anda manfaatkan dan ambillah keuntungan semaksimal mungkin dari sana.

 

  1. miliki momentum yang tepat
  2. mencari kesempatan-kesempatan
  3. memanfaatkan kesempatan
  4. hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil
  5. bekerja ekstra
  6. mengayuh sampan kecil kita sendiri
  7. menuntaskan seluruhnya
  8. mengatasi rintangan

v  Miliki komitmen untuk mencapai keunggulan

v  Jadilah berhasil

v  Komunikasikan kisah Anda

v  Jadilah teratur

Gereja juga harus membina hubungan yang baik, baik itu dengan gereja lain maupun dengan masyarakat. Membina hubungan baik dengan gereja lain tentu sangat sesuai dengan pandangan Alkitab karena kita, gereja-gereja, adalah Tubuh Kristus. Sebagai sesama Tubuh Kristus, gereja-gereja wajib bekerja sama untuk menyebarkan Kabar Baik dan memperluas Kerajaan Surga di bumi.

Semua anggota staf gereja harus berkomitmen untuk membangun hubungan yang baik dengan sesama. Saya setuju kalau Secara rohani, semua anggota staf harus mengasihi Tuhan, gereja, mengasihi satu sama lain dan berlaku seperti orang Kristen; semua staf harus bersukacita; para staf harus memiliki kerendahan hati dan ketaatan; semua anggota staf harus menjaga saat teduh harian mereka. Hal ini sesuai dengan etika Kristen karena Etika Kristen memiliki tujuan untuk mengharmoniskan hubungan antar manusia, hubungan antar orang percaya, dan hubungan gembala dengan anggota jemaatnya. Hal ini dikarenakan perintah kasihilah sesamamu, implikasinya yaitu adanya hubungan yang baik di antara sesama, tidak bermusuhan, tetapi hubungan yang harmonis.

Howard Hendricks mengatakan bahwa satu tanda kedewasaan seseorang terletak pada kemapuan orang itu untuk mengaturnya dirinya. Menurut Hendricks pengaturan atau mengelola waktu yang baik melibatkan enam prinsip, yaitu sebagai berikut:

 

  • Mempunyai tujuan yang jelas,
  • Memiliki rencana yang rinci,
  • Membuat daftar kegiatan setiap harinya,
  • Menetapkan prioritas,
  • Menangani tugas dengan tekun, dan
  • Mengembangkan perasaan memprioritaskan tugas.

Dalam konteks rohani, pelayan Tuhan setiap saat tidak hanya menyelidiki isi Alkitab saja lalu berharap akan bertumbuh sendiri, akan tetapi, sebagai pelayan Tuhan kita harus berlatih dengan mewujudkannya. Firman Tuhan bukan hanya untuk dimengerti saja tetapi untuk dilakukan. Suatu latihan tidak selalu dalam sekali melakukannya langsung berhasil, maka dari itu diperlukan ketekunan.

Dalam melayani orang lain atau jemaat, kita harus memiliki komitmen yang kuat. Sebenarnya semua orang sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai suatu keberhasilan. Masalahnya, mereka tidak melakukannya karena dari semua itu yang hilang adalah MOTIVASI. Tidak adanya motivasi adalah bagian dari kegagalan dalam hidup manusia. Kegagalan sudah ditanam dalam diri mereka sejak muda by design (melalui rancangan). Hanya 3% orang yang berusia 65 tahun ke atas dapat hidup bahagia karena mereka sudah merancangnya.

Motivasi diri terdiri dari 2 bagian yang penting yakni:

  1. Aspek mental
  2. Aspek fisik

 

  1. Aspek Mental

Pada aspek mental, kita membayangkan kemana kita mau pergi. Kita menggambarkan tujuan hidup kita. Kita harus memiliki gambar kehidupan kita di masa yang akan datang. Gambarkan suatu situasi dimana Anda sedang merayakan kesuksesan bila gambaran anda kelak telah menjadi kenyataan. Yakinlah berdasarkan jalannya waktu, Anda akan melihat gambar yang tadinya kabur menjadi makin terang.

 

 

  1. Aspek Fisik

Kalau kita sudah mempunyai motivasi yang kuat dalam diri kita, maka kita akan mengambil tindakan untuk menuju ke sasaran kita.

Motivasi tidak mengenal usia, gender, keahlian dan pendidikan yang kita miliki. Ia hanya membutuhkan impian dan tindakan. Di dalam motivasi, selama kita tidak pernah bertindak, kita tidak pernah akan sampai ke sasaran kita. Keinginan untuk melihat impian kita terwujud, dapat dijadikan dorongan untuk mencapainya.

Untuk memulai pelayanan di gereja kecil, ketahui terlebih dahulu mengenai status jemaat. Apakah jemaat tersebut adalah jemaat pedesaan, jemaat yang lebih tua, atau jemaat perkotaan? Perlu juga diketahui apakah jemaat tersebut punya sejarah konflik yang menghancurkan. Kemudian kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita pantas dan merupakan orang yang tepat untuk memimpin jemaat tersebut menjadi umat Tuhan.

Saat memulai proses pendekatan, biasanya akan banyak orang yang memberikan saran untuk kepemimpinan Anda. Sebaiknya dengarkan semua nasihat mereka karena ada waktunya untuk merespons semua saran dan pendapat mereka.

Seorang pemimpin atau gembala dimanapun ia berada, ia harus:

  • Gembala yang memiliki integritas, integritas pendeta sebagai gembala menyangkut kepribadian, iman, dan moralitas dalam dimensi kejujuran dan tanggung jawab saat melaksanakan kebenaran tugas pelayanan. Ornag yang memiliki integritas setidaknya antara perkataan dengan tindakan tidak berbeda.
  • Gembala memelihara profesionalitasnya, setiap gembala wajib memiliki nilai profesionalitas, yaitu akan menolak godaan-godaan agar tidak membiarkan dirinya lebih setia pada organisasi dan tujuan sesaat dan juga menolak godaan untuk membangun popularisme pribadi dan mengaburkan tujuan utama panggilannya. Selain itu, gembala juga harus menambah pengetahuan yang relevan dan mengikuti perkembangan social, ekonomi, politik, hukum, pembangunan, pengaruh IPTEK, dan lainnya untuk mengantisipasi apa yang terjadi di jemaatnya dan dapat menyesuaikan pelayanan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada masyarakat di sekitarnya.
  • Gembala bertanggung jawab dalam tugas pelayanan rutin gereja, pendeta atau gembala yang sudah ditahbiskan berarti telah terikat perjanjian dengan tugas rutin pelayanan gerejawi dan tidak bisa mengelak. Dengan sikap penuh tanggung jawab dalam melayani seorang gembala jemaat mempunyai kewajiban untuk memberi makan, menuntun, melindungi, membina, dan membantu kawanan dombanya (I Tim. 3: 1-7). Membagi tugas dengan wakil gembala atau pendeta staf bisa saja dilakukan.
  • Gembala mengasihi setiap anggota jemaatnya, pendeta wajib mengasihi setiap anggota jemaatnya (I Pet. 2: 16-17), tidak bersikap pilih kasih atau memilah-milah yang efeknya sering demi untuk kepentingan pribadinya. Hal ini harus diwaspadai dalam diri pendeta agar tidak muncul sikap yang demikian. Gembala yang baik adalah gembala yang mencintai kawanan seua dombanya. Hal ini berarti gembala harus selalu waspada terhadap ancaman ajaran sesat atau lainnya, jika muncul bahaya maka gembala lebih dulu yang menghadapi dan melindungi domba-dombanya.
  • Gembala adalah pemimpin dalam gereja, pendeta harus menyadari bahwa ia bukan pemimpin di atas sementara gereja berada di bawahnya. Kalau pendeta di atas gereja maka gereja seperti miliknya yang bisa dibuat semaunya sendiri sehingga mudah muncul sikap diktator. Jika pendeta di dalam gereja maka ia menyadari dirinya adalah bagian dari gereja Tuhan, tidak bisa semaunya sendiri dalam bertindak karena gereja punya tata gereja dan doktrin yang jelas. Gereja mengangkat pendeta guna memperlancar kesaksian dan misi gereja Tuhan bukan melayani dan mengatur sesuka hatinya sendiri.
  • Gembala tidak mementingkan kepentingan pribadi, gembala yang telah ditahbiskan, tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi sebagai pengabdian (I Petrus 5: 2-3). Gembala dalam sikap moralnya dituntut adanya disiplin diri dan tidak mengeksploitasi kekuasaan yang dipercayakan kepadanya (Mazmur 105: 1-5). Tidak bersikap tamak dengan menguras keuangan gereja untuk dipakai kepentingan pribadi dan tidak meminta-minta uang kepada umat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (Roma 16: 18). Pemimpin adalah pelayan bukan tuan (Matius 23: 8-11), maka perlu selalu mewaspadai munculnya pengkultusan pribadi atau sikap sewenang-wenang dan keangkuhan.
  • Gembala pemimpin yang berkolaborasi, pendeta adalah pemimpin yang wajib bekerja sama dengan umat di gerejanya (Roma 14: 19). Pendeta tidak sendiri karena ia adalah bagian dari suatu kolektivitas yaitu gereja dan jemaat yang lebih luas. Pendeta yang meminggirkan peranan kaum awam tidaklah benar. Paulus mengingatkan bahwa kita semua adalh anggota dari satu tubuh, jika yang satu menderita yang lain juga ikut menderita. Jika kerja sama diabaikan maka akan terbentuk kelompok-kelompok yang tidak sehat.
  • Gembala peduli kesusahan jemaat, gembala wajib peduli jika ada dombanya mengalami kesusahan (Roma 12: 13). Hal itu sebagai wujud dari mengasihi sesama apalagi ia anggota jemaatnya.
  • Gembala mengutamakan keutuhan dan kesejahteraan jemaat, gembala wajib memelihara keutuhan dan mengutamakan kesejahteraan jemaat dibanding ambisi profesionalitas pribadinya. Pendeta senior perlu membimbing pendeta yang yunior untuk memenuhi pelayanan pastoral dan kepemimpinan gereja selanjutnya. Kalau suatu keputusan dapat menimbulkan perpecahan maka sebisa mungkin dihindarkan sebab banyak yang perlu mendapat perhatian gembala.
  • Gembala dalam menghadapi perbedaan pendapat, dalam suatu kepemimpinan jemaat kerap kali muncul adanya perbedaan pendapat dalam rapat-rapat kegiatan gereja (Titus 3: 9). Timbulnya perbedaan adalah hal yang wajar, cermin adanya dinamika dan kehidupan, dan itu tidak harus dibungkam. Hal ini perlu disadari pula oleh majelis gereja atau penatua dan diaken. Setiap kegiatan kelompok yang direncanakan oleh manusia, dilakukan oleh manusia, dan dinilai oleh manusia pasti terdapat perbedaan. Dalam situasi ini, pendeta harus bersikap tidak memihak tetapi tidak lepas tangan tetapi harus membimbing bagaimana mengambil keputusan yang baik yang bisa diterima kedua belah pihak. Di sisi lain, kadang terjadi adanya penatua atau diaken atau anggota jemaat yang vokal dalam rapat, yang selalu mencari-cari kelemahan dan kesalahan gembala. Maka dari itu, sebagai kita juga harus menyadari kita semua adalah manusia yang pasti memiliki kesalahan dan kekurangan.

 

Bab IV

Kesimpulan dan Saran

 

            Secara keseluruhan buku ini sangat berguna bagi para calon pemimpin gereja atau bagi orang awam yang ingin belajar lebih lagi mengenai administrasi gereja yang seharusnya. Buku ini disertai dengan ilustrasi dan contoh-contoh yang lengkap mengenai proses administrasi gereja sehingga lebih mudah dimengerti.

Akan tetapi, dalam prosesnya kita memerlukan sejumlah perencanaan. Perencanaan tersebut antara lain mengenai anggaran dan Sumber daya manusia, baik berupa tenaga maupun gagasan. Anggaran perlu untuk direncanakan dengan baik di dalam gereja. Ada dua cara dalam membangun anggaran pelayanan, yaitu pendekatan daftar kebutuhan dan pendekatan dasar pelayanan. Anggaran daftar kebutuhan adalah tipe yang umum digunakan oleh gereja dimana alokasi dibuat untuk tiap macam kebutuhan. Sedangkan anggaran dasar pelayanan ditekankan pada partisipasi terbanyak dari orang-orang. Cara terbaik membuat anggaran adalah membuatnya pada awal tahun, dan mengembangkannya berdasarkan nilai variable-variabel yang utama.

Sumber daya manusia, antara lain adalah staf dan gembala. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita wajib untuk memiliki akar kerohanian yang kuat. Pemimpin yang besar memiliki keterampilan untuk tetap mempertahankan para pemain yang kuat dan berkomitmen pada visinya. Ini tidak selalu berarti situasi yang memenangkan keda belah pihak. Ada kalanya orang-orang kuat hanya perlu setuju dengan apa yang Anda tetapkan. Terdapat tiga kunci bagi kepemimpinan yang kuat, yakni:

v  Kepemimpinan yang kuat menuntut sesuatu dari orang lain.

v  Kepemimpinan yang kuat akan membuat orang-orang bertanggung jawab.

Kepemimpinan yang kuat tidak gentar pada opini orang lain.

 

 

 

 

Bibliografi

 

Holland, Thomas P. dan David C. Hester (ed.). 2000. Building Effective Boards For Religious Organizations. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers.

Power, Bruce. P (ed.). 1997. Church Administration Hand Book. USA: Broadman & Holman Publisher.

Sosiopater, Karel. 2009. Etika Pelayanan. Jakarta: Suara Harapan Bngsa.

Tirtamihardja, Samuel H. 2007. Biarkan Mimpi Kecil Tetap Membara:

10 Langkah menjadi Motivator Berhasil. Tangerang: YASKI.

Wilson, Marlene. 1983. How To Mobilize Chruch Volunteers. Minneapolis: Augsburg Publishing House.

 

 

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.